Kuliner
Sabtu, 18 Februari 2017 - 12:59:39 | ahmad-syarief / Sorot Sukoharjo

Alakatak, Jajanan Tradisional Desa yang Melegenda
Alakatak, Jajanan Tradisional Desa yang Melegenda
Alakatak, makanan kuliner khas // foto by Syarief Ahmad

Tawangsari,(sorotsukoharjo.com)--Persaingan kuliner di era modern ini, hanya sedikit jajanan teradisional yang masih eksis dan mampu ikut bersaing dengan pangan masa kini. Salah satunya Alakatak. Jajanan tradisional berupa mie pohung dengan tempe benguk yang dikemas dengan menggunakan daun jati ini masih tetap lestari.

Rasanya yang enak dan tampilannya yang unik dengan menggunakan daun jati justru menjadikan Alakatak makanan yang melegenda dan banyak digemari masyarakat. Selain unik, makanan tradisional yang banyak di jumpai di Kecamatan Weru dan Kecamatan Tawangsari Sukoharjo serta sebagian wilayah di Kecamata Semin Gunungkidul ini juga memiliki harga yang sangat ekonomis. Satu porsi alakatak hanya dijual dengan harga seribu rupiah.

Mbok Rinem, pembuat sekaligus penjual Alakatak dari padukuhan Wonosari, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru yang berjualan di emperan pasar Tawangsari mengaku, dalam sehari ia biasa menghabiskan Alakatak sampai 400 bungkus lebih. Diakui Mbok Rinem, daganganya akan habis terjual sebelum jam 07.00 WIB.

“Saya sudah hampir 40 tahun jualan alakatak. Biasanya dari jam 03.00 Wib saya datang di pasar Tawangsari ini, sampai jam 07.00 Wib pagi biasanya sudah habis semua,” bebernya, Sabtu (18/2/2017) pagi.

Sementara itu, penggemar kuliner tradisional, Agus Widanarko ketika mencicipi alakatak mengatakan, makanan tradisional semacam alakatak ini memang sudah seharusnya di lestarikan dan diberi ruang untuk dipromosikan sebagai icon makanan khas daerah. Apalagi makanan ini tergolong unik, sehingga perlu kiranya ada upaya dari pemerintah maupun dinas terkait untuk mengekplorasinya sehingga bisa menjadi populer dan menjadi ciri khas suatu daerah.

“Seharusnya ada even, semacam festival kuliner tradisional sehingga bisa menjadi makanan populer sebagai ciri khas masyakarat sukoharjo dan tentu bisa menghidupi ekonomi kerakayatan,” bebernya.

Berita Terkait :